Showing posts with label Kompas. Show all posts
Showing posts with label Kompas. Show all posts

Wednesday, March 21, 2007

Pembajakan Nama KOMPAS


Hati-hati Penipuan!

TERKAIT dengan pencatutan nama KOMPAS akhir-akhir ini, kami mengingatkan agar semua pihak hati-hati dengan kehadiran segelintir orang yang menamakan diri KOMPAS, yang mendatangi sumber/narasumber, lembaga swasta, lembaga legislatif, atau instansi pemerintah dengan maksud menipu bahkan memeras, bukan untuk meliput atau memperoleh berita.

Setiap wartawan Harian Kompas dalam menjalankan tugasnya selalu dilengkapi identitas berupa kartu wartawan, kartu nama Harian Kompas
, maupun ID Card perusahaan. Berbagai identitas profesional itu bisa diminta untuk ditunjukkan setiap saat, jika sumber/narasumber ragu atas keberadaannya.

Terima kasih.



Sunday, February 18, 2007

Hati-hati KOMPAS Palsu!


Usul: Kompas Pasang Iklan dan Bentuk “LBH”




Dikarenakan akhir-akhir ini ada ada sementara pihak yang mengaku melek hukum tetapi malah melecehkan hukum itu sendiri, misalnya seenaknya menggunakan kata “Kompas” untuk tujuan-tujuan tertentu, kami mengusulkan agar manajemen Harian Kompas memasang iklan peringatan atas kemungkinan penyalahgunaan nama “Kompas” tersebut.

Seperti kita ketahui, DPR pernah tertipu menerima sekelompok massa yang menamakan diri KOMPAS. DPR mengira bahwa Harian Kompas memecat karyawannya secara massal. Padahal kita ketahui bersama, yang dipecat hanya seorang wartawan. Demikian juga Disnaker Jakarta, yang kemungkinan terkecoh atas nama KOMPAS ini.

Pemecatan di berbagai institusi pers sudah seringkali terjadi. Bahkan yang dipecat bukan hanya seorang wartawan, tetapi pemecatan sejumlah wartawan. Akan tetapi sejauh itu, sebagaimana pernah diungkapkan anggota AJI Ging Ginanjar, dampak yang ditimbulkannya tidaklah seheboh pemecatan seorang wartawan Kompas. Tidak ada gerakan, tidak ada demo, tidak ada intimidasi kepada institusi media massa yang melakukan pemecatan massal tersebut!

Tetapi mengapa itu terjadi pada Harian Kompas? Ya, karena sebagai institusi besar, Harian Kompas rawan akan pemerasan! Segala cara untuk memeras akan dilakukan, apalagi menemukan momentumnya seperti saat ini.

Mengingat nama Harian "Kompas" mudah diselewengkan, mungkin juga untuk tujuan pemerasan terhadap sumber-sumber kredibel dengan mengatasnamakan “wartawan” Kompas, kami mengusulkan manajemen Harian Kompas untuk memasang iklan peringatan di berbagai media, media massa cetak maupun elektronik, agar masyarakat hati-hati menerima permintaan atau desakan dari sekelompok massa yang menamakan diri KOMPAS.

Kami juga mengusulkan kepada relawan-relawati wartawan/karyawan Kompas untuk mendirikan sebuah lembaga nirlaba bernama Lembaga Bantuan Humor (disingkat "LBH"). Tujuannya tidak lain untuk menghibur, membuat senang, membuat 'ngeh' sebagian warga masyakat yang belum tercerahkan, warga yang selama ini tahunya memonopoli kebenaran saja.

Tuesday, February 13, 2007

Demi Kebenaran Hakiki

Mukadimah:
SERUAN wartawan Kompas ini merupakan lanjutan dari postingan 30 Januari 2007 lalu bertajuk "Demi Kebenaran". Seperti diketahui bersama, seruan yang dimotori Bre Redana, Efix Mulyadi, dan Maria Hartiningsih itu menuai protes dari organisasi yang menamakan diri LBH Pers dan Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM). Kedua organisasi itu meminta klarifikasi dari ketiga wartawan senior Kompas atas kata "pertualangan" yang ada pada seruan, bahkan meminta batas waktu segala. Lihatlah, sepertinya negara ini milik mereka saja. Bikin seruan saja tidak boleh, meminjam kata "petualangan" saja reaktif, padahal mereka mendemo Kompas menggunakan kata-kata makian yang sangat tidak pantas diucapkan oleh orang-orang yang katanya intelek dan terpelajar. Tentu saja Bre dan kawan-kawan tidak harus menjawab, karena kata "petualangan" itu tidak ditujukan kepada siapapun secara spesifik. Lain soal kalau mereka merasa atau mengaku apa yang sedang dan telah mereka lakukan adalah benar sebuah "petualangan", baru dijawab!

Moderator


Seruan Wartawan Kompas (Lanjutan)


72. Bambang Sigap Sumantri
73. Khairina Nasution
74. Tjahja Gunawan Diredja
75. AW Subarkah
76. Edna Caroline Pattisina
77. Rakajran Sukarjaputra
78. Agnes Aristiarini
79. Trias Kuncahyo
80. M Subhan SD
81. A Wisnu Nugroho
82. Hendry CH Bagun
83. Suhartono
84. J Waskita Utama
85. Fajar Marta
86. Retno Bintarti
87. M Hernowo
88. Prasetyo Eko
89. Thomas Pudjo
90. Ichwan Susanto
91. Wisnu Widiantoro
92. Dwi Bayi Radius
93. M Hilmi Faiq
94. Lis Dhaniati
95. Yulianus Harjono
96. A Joice TS
97. A Maryoto
98. Subur Tjahjono
99. Fransisca Romana
100. Nasrullah Nara
101. Andi Suruji
102. Frans Sarong
103. Samuel Oktora Batarede
104. Benny Dwi Koestanto
105. Khaerul Anwar

Seruan Wartawan Kompas (Sebelumnya)

1. Efix Mulyadi
2. M. Nasir
3. Budi Suwarna
4. Mh Samsul Hadi
5. Maria Hartiningsih
6. Frans Sartono
7. Hamzirwan
8. Hermas E Prabowo
9. Luki Aulia
10. Pascal S Bin Saju
11. Amir Sodikin
12. Hariadi Saptono
13. Nawa Tunggal
14. Dahono Fitrianto
15. Ida Setyorini
16. Mulyawan Karim
17. Fandri Yuniarti
18. Gunawan Setiadi
19. Nur Hidayati
20. Susi Ivvaty
21. Osa Triyatna
22. Chris Pudjiastuti
23. Kenedi Nurhan
24. Orin Basuki
25. Tiur Santi Oktavia
26. Banu Astono
27. Bre Redana
28. M Suprihadi
29. Iwan Ong
30. Ninuk Mardiana Pambudy
31. Haryo Danardono
32. Tonny D Widiastono
33. M Clara Wresti
34. Fitrisia M
35. Brigitta Isworo Laksmi
36. Danu Kusworo
37. Jimmy S Harianto
38. Lusiana Indriasari
39. Myrna Ratna
40. Agus Mulyadi
41. Agus Hermawan
42. Diah Marsidi
43. Neli Triana
44. Windoro Adi
45. Irving Noor
46. Yesayas Octavianus
47. Yulia Sapthiani
48. Caesar Alexey
49. Arbain Rambai
50. Pingkan E Dundu
51. Pepih Nugraha
52. Anton Sanjoyo
53. Abun Sanda
54. Sri Hartati Samhadi
55. Dirman Thoha
56. Jannes Eudes Wawa
57. Putu Fajar Arcana
58. M Yuniadhi Agung
59. Dedi Muhtadi
60. Bambang Wahyu
61. Elly Roosita
62. Ambrosius Harto
63. Ardhian Novianto
64. Agnes Sweta Pandia
65. Muhammad Bakir
66. Yunas Santhani Azis
67. Muhammad Syaifullah
68. Gatot Widakdo
69. Buyung Wijaya Kusuma
70. Anwar Hudiono
71. R Adhi Kusumaputra


NB:
Seruan Karyawan Kompas dipelopori Heru Sudarwanto dengan mencatatatkan diri sebagai penyeru nomor satu.

Wednesday, January 31, 2007

Sikap KSP


Sudah Waktunya Bersikap dan Bertindak Tegas!

SERUAN yang dikirim Mas Bre Redana ke milis Kompas seharusnya dibuat sejak ada demo-demo di kantor Kompas di Yogyakarta, kemudian berlanjut di Jakarta. Apalagi ketika spanduk panjang di Bundaran HI dan di samping kantor KKG di Palmerah dipajang. Saya waktu itu bertanya-tanya, mengapa wartawan Kompas cuma diam saja, membiarkan orang dengan seenaknya memaki-maki Kompas, mengajak orang memboikot tidak baca Kompas, melempar telur busuk ke kantor Kompas Yogya, memasang spanduk panjang di Bundaran HI dan di samping kantor KKG di Palmerah? Kok Kompas sabar amat ya? Namun setelah cukup lama menunggu, akhirnya teman-teman wartawan Kompas mengambil sikap tegas dengan menandatangani SERUAN WARTAWAN KOMPAS.

Saya sendiri sempat dikirimi SMS gelap yang isinya menyebutkan bahwa saya dilaporkan ke polisi karena menyebarkan berita fitnah di www.kompas.com. Berita itu bersumber dari penjelasan Pemred Kompas Suryopratomo perihal peristiwa yang terjadi pada Bambang Wisudo. Sepengetahuan saya, berita-berita yang dimuat dotcom lainnya dan beberapa radio yang mengulas soal Wisudo, tidak ada konfirmasi pihak berwenang Kompas. Makanya, wajar jika Dewan Pers membenarkan pemuatan berita di www.kompas.com tersebut. sebagai hak jawab Kompas.

Menurut saya, sudah waktunya, Kompas, wartawan Kompas, karyawan Kompas, pimpinan Kompas, siapapun yang mencintai Kompas, menggugat balik Sdr Wisudo ke Polda Metro Jaya yang telah mencemarkan nama baik lembaga ini dengan menyebarkan berita-berita tidak benar di berbagai milis dan di blog (
http://kompasinside.blogspot.com/) juga sudah memajang spanduk dengan kalimat yang menurut saya, bernuansa "menghina".

Sudah waktunya, kita, para insan Kompas yang mencintai Kompas, bersikap tegas atas kesewenangwenangan yang dilakukan Wisudo. Menjelek-jelekkan perusahaan tempat kita bekerja di luar Kompas, tempat kita mencari nafkah lahir batin, apakah itu pantas? Menurut saya, tak ada perusahaan di mana pun di dunia ini, yang mau mempekerjakan karyawannya yang sudah bertindak sewenang-wenang, menjelek-jelekkan perusahaan tempat dia bekerja, kepada pihak luar sana. Karena itu, bukan hanya tindakan PHK yang harus dilakukan, tetapi juga tindakan hukum, mengugat balik ke polisi atas pencemaran nama baik yang dilakukannya selama ini, itulah langkah paling tepat, yang harus ditempuh saat ini.

Wartawan dan rakyat biasa,
R Adhi Kusumaputra