Showing posts with label seruan. Show all posts
Showing posts with label seruan. Show all posts

Tuesday, February 13, 2007

Demi Kebenaran Hakiki

Mukadimah:
SERUAN wartawan Kompas ini merupakan lanjutan dari postingan 30 Januari 2007 lalu bertajuk "Demi Kebenaran". Seperti diketahui bersama, seruan yang dimotori Bre Redana, Efix Mulyadi, dan Maria Hartiningsih itu menuai protes dari organisasi yang menamakan diri LBH Pers dan Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM). Kedua organisasi itu meminta klarifikasi dari ketiga wartawan senior Kompas atas kata "pertualangan" yang ada pada seruan, bahkan meminta batas waktu segala. Lihatlah, sepertinya negara ini milik mereka saja. Bikin seruan saja tidak boleh, meminjam kata "petualangan" saja reaktif, padahal mereka mendemo Kompas menggunakan kata-kata makian yang sangat tidak pantas diucapkan oleh orang-orang yang katanya intelek dan terpelajar. Tentu saja Bre dan kawan-kawan tidak harus menjawab, karena kata "petualangan" itu tidak ditujukan kepada siapapun secara spesifik. Lain soal kalau mereka merasa atau mengaku apa yang sedang dan telah mereka lakukan adalah benar sebuah "petualangan", baru dijawab!

Moderator


Seruan Wartawan Kompas (Lanjutan)


72. Bambang Sigap Sumantri
73. Khairina Nasution
74. Tjahja Gunawan Diredja
75. AW Subarkah
76. Edna Caroline Pattisina
77. Rakajran Sukarjaputra
78. Agnes Aristiarini
79. Trias Kuncahyo
80. M Subhan SD
81. A Wisnu Nugroho
82. Hendry CH Bagun
83. Suhartono
84. J Waskita Utama
85. Fajar Marta
86. Retno Bintarti
87. M Hernowo
88. Prasetyo Eko
89. Thomas Pudjo
90. Ichwan Susanto
91. Wisnu Widiantoro
92. Dwi Bayi Radius
93. M Hilmi Faiq
94. Lis Dhaniati
95. Yulianus Harjono
96. A Joice TS
97. A Maryoto
98. Subur Tjahjono
99. Fransisca Romana
100. Nasrullah Nara
101. Andi Suruji
102. Frans Sarong
103. Samuel Oktora Batarede
104. Benny Dwi Koestanto
105. Khaerul Anwar

Seruan Wartawan Kompas (Sebelumnya)

1. Efix Mulyadi
2. M. Nasir
3. Budi Suwarna
4. Mh Samsul Hadi
5. Maria Hartiningsih
6. Frans Sartono
7. Hamzirwan
8. Hermas E Prabowo
9. Luki Aulia
10. Pascal S Bin Saju
11. Amir Sodikin
12. Hariadi Saptono
13. Nawa Tunggal
14. Dahono Fitrianto
15. Ida Setyorini
16. Mulyawan Karim
17. Fandri Yuniarti
18. Gunawan Setiadi
19. Nur Hidayati
20. Susi Ivvaty
21. Osa Triyatna
22. Chris Pudjiastuti
23. Kenedi Nurhan
24. Orin Basuki
25. Tiur Santi Oktavia
26. Banu Astono
27. Bre Redana
28. M Suprihadi
29. Iwan Ong
30. Ninuk Mardiana Pambudy
31. Haryo Danardono
32. Tonny D Widiastono
33. M Clara Wresti
34. Fitrisia M
35. Brigitta Isworo Laksmi
36. Danu Kusworo
37. Jimmy S Harianto
38. Lusiana Indriasari
39. Myrna Ratna
40. Agus Mulyadi
41. Agus Hermawan
42. Diah Marsidi
43. Neli Triana
44. Windoro Adi
45. Irving Noor
46. Yesayas Octavianus
47. Yulia Sapthiani
48. Caesar Alexey
49. Arbain Rambai
50. Pingkan E Dundu
51. Pepih Nugraha
52. Anton Sanjoyo
53. Abun Sanda
54. Sri Hartati Samhadi
55. Dirman Thoha
56. Jannes Eudes Wawa
57. Putu Fajar Arcana
58. M Yuniadhi Agung
59. Dedi Muhtadi
60. Bambang Wahyu
61. Elly Roosita
62. Ambrosius Harto
63. Ardhian Novianto
64. Agnes Sweta Pandia
65. Muhammad Bakir
66. Yunas Santhani Azis
67. Muhammad Syaifullah
68. Gatot Widakdo
69. Buyung Wijaya Kusuma
70. Anwar Hudiono
71. R Adhi Kusumaputra


NB:
Seruan Karyawan Kompas dipelopori Heru Sudarwanto dengan mencatatatkan diri sebagai penyeru nomor satu.

Wednesday, January 31, 2007

Demi Kebenaran


Seruan Wartawan Kompas

Dilahirkan tahun 1965, Harian Kompas—nama ini diusulkan oleh Presiden Soekarno yang artinya “pemberi arah dan jalan dalam mengarungi lautan atau hutan rimba”—sampai saat ini tetap menempatkan mottonya, “Amanat Hati Nurani Rakyat” sebagai cakrawala. Harian Kompas ingin tetap berkembang dan mengembangkan diri sebagai institusi pers yang mengedepankan keterbukaan, meninggalkan pengkotakan latar belakang suku, agama, ras, dan golongan.

Sebagai lembaga yang terbuka, kolektif, Harian Kompas menempatkan kemanusiaan sebagai nilai tertinggi, mengarahkan fokus perhatian dan tujuan pada nilai-nilai yang transenden atau mengatasi kepentingan kelompok. Dengan cakrawala itu pula, Harian Kompas ingin ikut serta dan secara aktif berupaya terlibat dalam proses mencerdaskan bangsa, atau lebih jauh lagi, memuliakan manusia.

Sebagai institusi dengan alasan penjadian seperti di atas, maka segenap wartawan Kompas merasa perlu harus tekun, tak pernah berhenti bergulat dengan nilai-nilai dasar Kompas, yang antara lain bersifat menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaan sesuai dengan harkat dan martabatnya; mengutamakan watak baik; profesional; selalu sadar atas tugas mengemban tanggung jawab sosial.

Dinamika di dalam, yang selalu berada pada posisi tarik-menarik, tawar-menawar, bernegosiasi antara kepentingan perusahaan beserta seluruh wartawan/karyawannya dengan idealisme institusi ini, adalah hal yang wajar terjadi, pada suatu institusi bisnis. Ketegangan antara kepentingan perusahaan sebagai institusi bisnis di satu pihak, dan idealisme pers yang bertugas mengemban tanggung jawab sosial di lain pihak, merupakan bentuk ketegangan yang ikut mendewasakan siapa saja yang bekerja di surat kabar ini. Selama ini, ketegangan seperti itu diselesaikan dengan semangat kebersamaan, dengan asumsi adanya pengutamaan watak dan niat baik semua pihak, atau bahkan dengan pertama-tama mensyukuri rahmat Tuhan atas peran yang bisa kami mainkan selama ini. Di sini memang terbersit adanya asketisme di antara kami wartawan Kompas. Pilihan hidup sebagai wartawan dalam beberapa hal mengandung aspek vocatio, panggilan, untuk ikut memuliakan kehidupan dan kemanusiaan.

Latar belakang di atas perlu kami paparkan, karena kami melihat pada waktu-waktu belakangan ini di luar Kompas telah muncul suatu “petualangan” oleh satu pihak yang melakukan aksi untuk mendiskreditkan, merongrong, memutar-balikkan nilai-nilai yang diemban oleh Harian Kompas. “Petualangan” oleh pihak tersebut dilakukan dengan aksi sepihak berupa antara lain kegiatan demonstrasi di seputar kantor Harian Kompas dan beberapa tempat lain; pemasangan spanduk-spanduk yang sifatnya mendiskreditkan perusahaan maupun individu; penyampaian informasi-informasi sepihak tentang berbagai kejadian yang telah “diorkestrasi” pihak tersebut untuk memojokkan Harian Kompas ke berbagai pihak seperti lembaga-lembaga swadaya masyarakat, lembaga resmi pemerintah, dan lain-lain; menempatkan berbagai pihak di dalam Harian Kompas dalam posisi antagonistik; dan menyebarkan hasutan dan sifat saling bermusuhan.

Untuk mencegah “petualangan” itu berkembang lebih jauh sehingga merugikan berbagai pihak, terutama masyarakat luas yang ikut memiliki Harian Kompas, maka dengan ini kami, wartawan Kompas, mengeluarkan seruan:

1. Kami, wartawan Kompas, tidak merasa diwakili oleh satu pihak, yang tengah berpretensi mewakili kepentingan para wartawan/karyawan Harian Kompas, dengan melakukan aksi sepihak berikut cara-cara yang justru bertentangan dengan segenap nilai yang hendak diinternalisasikan Harian Kompas.

2. Karena pihak tersebut mengklaim diri sebagai pengurus dari suatu organisasi di dalam Harian Kompas—suatu organisasi yang sifatnya lebih untuk kepentingan di dalam, dan menjadi isu minor dibandingkan kepentingan pembaca/masyarakat secara luas—kami nyatakan klaim itu tidak relevan. Organisasi ini telah dibajak keluar untuk memperjuangkan kepentingan pribadi yang sempit, dengan berkedok untuk kepentingan para wartawan/karyawan Harian Kompas.

3. Kami mengimbau semua pihak berhati-hati, karena dalam era globalisasi berikut tersedianya berbagai instrumen dan institusi yang memungkinkan adanya pemberdayaan individu secara optimum ini, tampaknya bukan tidak mungkin muncul apa yang disebut “a super-empowered angry individual” yang berpotensi menghancurkan cita-cita terbentuknya masyarakat madani, proses demokratisasi, bahkan sivilisasi.

Jakarta, 27 Januari 2007



Kami, wartawan Kompas:

1. Efix Mulyadi
2. M. Nasir
3. Budi Suwarna
4. Mh Samsul Hadi
5. Maria Hartiningsih
6. Frans Sartono
7. Hamzirwan
8. Hermas E Prabowo
9. Luki Aulia
10. Pascal S Bin Saju
11. Amir Sodikin
12. Hariadi Saptono
13. Nawa Tunggal
14. Dahono Fitrianto
15. Ida Setyorini
16. Mulyawan Karim
17. Fandri Yuniarti
18. Gunawan Setiadi
19. Nur Hidayati
20. Susi Ivvaty
21. Osa Triyatna
22. Chris Pudjiastuti
23. Kenedi Nurhan
24. Orin Basuki
25. Tiur Santi Oktavia
26. Banu Astono
27. Bre Redana
28. M Suprihadi
29. Iwan Ong
30. Ninuk Mardiana Pambudy
31. Haryo Danardono
32. Tonny D Widiastono
33. M Clara Wresti
34. Fitrisia M
35. Brigitta Isworo Laksmi
36. Danu Kusworo
37. Jimmy S Harianto
38. Lusiana Indriasari
39. Myrna Ratna
40. Agus Mulyadi
41. Agus Hermawan
42. Diah Marsidi
43. Neli Triana
44. Windoro Adi
45. Irving Noor
46. Yesayas Octavianus
47. Yulia Sapthiani
48. Caesar Alexey
49. Arbain Rambai
50. Pingkan E Dundu

51. Pepih Nugraha
52. Anton Sanjoyo
53. Abun Sanda
54. Sri Hartati Samhadi
55. Dirman Thoha
56. Jannes Eudes Wawa
57. Putu Fajar Arcana
58. M Yuniadhi Agung
59. Dedi Muhtadi
60. Bambang Wahyu
61. Elly Roosita
62. Ambrosius Harto
63. Ardhian Novianto
64. Agnes Sweta Pandia
65. Muhammad Bakir
66. Yunas Santhani Azis
67. Muhammad Syaifullah
68. Gatot Widakdo
69. Buyung Wijaya Kusuma
70. Anwar Hudiono
71. R Adhi Kusumaputra

NB:
Rekan-rekans wartawan yang belum sempat menyantumkan namanya sebagai pendukung seruan segera menyusul...

Moderator

Tuesday, January 30, 2007

Seruan


Jangan Tinggal Diam!

Rekans... kita tidak boleh tinggal diam menghadapi hasutan yang dilancarkan pihak manapun untuk mendiskreditkan Kompas, lembaga yang kita cintai ini. Kini zamannya perang informasi dengan menggunakan beragam media, termasuk blog. Pihak penghasut jelas memanfaatkan blog untuk mendiskreditkan Kompas, menghasut kita semua. Apakah kita hanya tinggal diam?

Kita juga bisa bikin blog. Sementara namanya InsideKompas dengan alamat
www.insidekompas.blogspot.com. Rekan bisa menulis apapun di blog ini dengan maksud bisa dibaca orang lain, kawan maupun lawan kita. Sudah saatnya unek-unek di milis yang hanya dapat diakses secara terbatas ditingkatkan ke dalam blog, agar semua isi kepala dan hati kita bisa dimengerti orang lain.

Semula saya (anggaplah moderator) ingin blog ini akses terbuka, dimana rekans mengetahui akun dan pasword-nya. Akan tetapi, akses terbuka ini bisa dengan mudah dihancurkan dan dikacaukan lawan. Untuk sementara, unek-unek rekans yang termuat di milis Kompas bersedia di upload di blog ini, akan saya bantu untuk menampilkannya.

Manfaatkanlah akses gratis ini, demi tegak dan tetap berdirinya Kompas dari serangan lawan. Ayo gerak, jangan diam, lawan...

Moderator